2021-09-21T00:56:43.090Z2021-09-21T00:56:43.090Z
Tuesday, Sep 21, 2021

The Downside of Chasing Happiness

Apa definisi kebahagiaan bagi kamu?

  • Bisa makan enak?
  • Punya mobil mewah?
  • Punya karir yang wow?
  • Punya keluarga?


"Ya pokoknya saya pengen bahagia. Udah gitu aja cukup."


The Standard of Happiness


Kebahagiaan itu apa sebenarnya? Ketika saya googling, saya mendapatkan pengertian bahwa "Happiness is a sense of well being, joy, or contentment." Jadi intinya, kebahagiaan itu ya ketika ada perasaan senang dan puas dari apa yang dialami. Se-simpel itu, tapi se-sulit itu untuk dicapai.

Kebanyakan dari kita (and I used to be) memiliki life goal "menemukan kebahagiaan", dan banyak dari kita pula (and again I used to be) tersandung dalam pencarian kebahagiaan itu sendiri. Jadinya, menjadi tidak bahagia dalam proses mengejar kebahagiaan. Mengapa? Karena takut tidak bahagia. Mumet, nggak?


Bukan, bukan hanya karena ketakutan tidak mampu mencapai kebahagiaan itu. Kebanyakan dari kita tidak mampu menentukan standar kebahagiaan kita, kita tidak memahami apa yang sebenarnya kita mau, standar kebahagiaan berbeda antara seorang dengan yang lain. Ada yang bahagia ketika memiliki keluarga, ada yang bahagia ketika mencapai karir yang diinginkan, dan ada yang ingin bahagia namun tidak mampu menentukan standarnya. Terakhir ini yang berbahaya.


Dan standar kebahagiaan itu sangat sulit untuk konsisten, berubah seiring waktu dan pencapaian yang kita dapatkan; misalnya bahagia apabila memiliki keluarga tapi setelahnya karena ini itu, menjadi tidak puas; bahagia apabila mencapai karir yang diinginkan, tapi setelah mencapainya, ingin lebih lagi dan lagi. That's human being, eh?

Minim usaha, ibaratnya hidup dalam mimpi. Kita punya standar kebahagiaan tapi nggak menunjukkan usaha untuk mencapainya. Dan kita tidak menakar kemampuan kita apakah realistis untuk mencapainya. 


Then, what is the point of chasing happiness?


Ada sebuah statement:

“Happiness is a mystery like religion, and should never be rationalized.” G.K. Chesterton, English author (1874-1936)


Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang misterius dan sulit dirasionalisasi. Saya sendiri sering terjebak menjadi tidak bahagia karena hal-hal yang saya sebutkan diatas, dan akhirnya bingung dengan sebenarnya apa yang saya inginkan. Sebagian besar klien saya juga terjebak dengan keinginan mencapai kebahagiaan yang akhirnya membuat mereka mempertanyakan diri mereka sendiri. Alhasil:

  1. Kita menjadi sering menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Kebanyakan dari kita juga menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain, dalam kasus ini biasanya ditemui pada yang sudah berpasangan. Menyalahkan pasangan atas perasaan tidak bahagia yang dirasakan.
  2. Kita menjadi mudah depresi dan frustasi atas standar kebahagiaan yang tidak mampu kita definisikan dan kendalikan itu.
  3. Seringkali kita kehilangan hal yang berharga dalam proses pencapaian itu. Pernah menonton Pursuit of Happiness(2006) yang diperankan oleh Will Smith? Ia kehilangan istrinya dalam proses mengejar kebahagiaannya, yaitu bagaimana bangkit dari keterpurukan ekonomi yang dialami keluarganya.
  4. Perasaan iri berkecamuk didalam diri, membandingkan hidup dengan orang lain yang (pasti) memiliki masalahnya sendiri. Mencari celah negatif dari hidup orang lain untuk menutupi kelemahan diri.
  5. Terbentuk perilaku nggak lazim sebagai kompensasi perasaan tidak puas karena merasa gagal mencapai kebahagiaan, misalnya drugs abuse, having affair karena tidak bahagia dengan pasangan, dsb.


Secara psikologis, manusia digerakkan oleh survival need. Insting manusia ialah untuk bertahan hidup sehingga tanpa kontrol, manusia akan melakukan apapun untuk bertahan; termasuk didalamnya untuk merasa bahagia. Apabila kita tidak mampu untuk mengendalikannya, well, we will be trapped in our own ambition.


So, is it wrong to chase happiness?


Tentu nggak, tapi pahamilah dengan jelas apa standar kebahagiaan kita, konsisten dengan standar itu, dan bikin action plan. Oh, jangan lupa untuk review terus menerus apakah itu masih relevan.


Contoh saya pribadi seperti ini:

"Saya merasa bahagia ketika saya bisa punya quality time dengan keluarga."
"Saya merasa bahagia ketika di sela-sela kesibukan, masih bisa rehat sejenak."
"Saya merasa bahagia ketika melihat tim saya di Ikigai Consulting menunjukkan perkembangan."


Karena dengan begitu, saya lebih jelas dan konsisten dalam menentukan standar saya, minim bergantung dengan orang lain, dan memiliki tujuan yang lebih meaningful.

Karena dengan begitu, saya berhenti membandingkan hidup saya dengan orang lain, karena saya punya tujuan personal yang hanya dimiliki oleh saya sendiri.

Karena dengan begitu, saya belajar untuk lebih menerima diri dan menghargai setiap proses yang terjadi.

Karena dengan begitu, saya lebih leluasa untuk berkarya dengan minim tekanan. 


Saya pun masih belajar dan berproses, kadang jatuh dan gagal ya sudah bounce back lagi.


Jangan sampai mengejar kebahagiaan lalu menjadi tidak bahagia, itu saja.


Send you much love!

Flavia.

Flavia Sungkit
Career and Leadership
Latest Articles
We use cookies to personalise content and ads, to provide social media features and to analyse our traffic. We alsoshare information about your use of our site with our social media, advertising and analytics partners who may combineit with other information that you’ve provided to them or that they’ve collected from your use of their services. Youconsent to our cookies if you continue to use our website.
ok